Senin, 15 Juli 2013

PEMERIKSAAN DAN PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM)

A.    Pengantar
Range of Motion Yaitu derajat untuk mengukur kemampuan suatu tulang, ototdan sendi dalam melakukan pergerakan. Bila terjadi gerakan, maka seluruh struktur yang terdapat pada  persendian tersebut akan terpengaruh, yaitu: otot, permukaan sendi, kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf.. Untuk mengendalikan gerakan genggamlah ekstremitas di sekitar sendi.
Dasar-dasar pengukuran sendi
  1. Cara dari pengukuran/pencatatan pergerakan sendi di dasarkan , Netral  Zero metode
  2. Smua gerakan sendi dari suatu sendi di ukur dari posisi permulaan 0 derajat dari gerak sendi, di tambahkan sesuai dengan sendi tersebtu bergerak dari posisi permulaan sendi 0
  3. Gerakan dari anggota yang akan di ukur di bandingkan dengan anggota yang normal. Perbedaan yang mungkin ada akan di nyatakan  dengan suatu derajat atau persentase.
  4. Apabila anggota tubuh berlawanan tidak normal maka gerakan persendian akan dibandingkan dengan gerakan rata-rata yang di peroleh pada usia dan bentuk tubuh yang sama sebagai patokan
  5. Gerakan-gerakan dapat dilaksanakan secara aktif dan pasif
  6. Keraguan-raguan yang sering di dapat antara istilah ekstensi dan hiperekstensi seperti yang terdapat pada sendi siku dan sendi lutut
  7. Pengurangan dari jarak gerak sendi, dapat dilaksanakan pengukuran secara sederhana, misalnya pada sendi elbow, posisi permulaan 30 derajat, bergerak flexi sampai 90 derajat, maka ROM = 90 – 30 = 60 derajat.
  8. Gerakan dari persendian mungkin di sertai rasa sakit maka harus hati-hati di dalam melaksanakan pengukuran secara pasif dan penderita dalam posisi yang enak.
  9. Kekakuan sendi di nyatakan apabila persendian tersebut betul-btul sama sekali gerakannya
  10. Mempergunakan alat geneometrik untuk mengukur sendi, sehingga mendapat angka pengukuran yang tepat agar dapat digunakan sebagai pencatatan untuk mengetahui kemajuan serta bahan pertimbangan dalam pengobatan atau pembedahan.
Tujuan dan Evaluasi ROM
  1. Mengetahui tingkat kelainan fungsi gerak sendi.
  2. Mengetahui prognosis dari penyakit.
  3. Mengetahui target dari pengobatan atau pemberian alat.
  4. Mengetahui hasil kemajuan dari pengobatan.
  5. Mengetahui dan meningkatkan motivasi penderita terhadap pengobatan dengan diketahuinya secara objektif kemajuan dari hasil pengobatan yang diberikan.
B.     Tujuan Praktikum
1.      Untuk mengetahui bagaimana cara pengukuran Range Of Motion
2.   Untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan Goniometer .

Myofascial Trigger Point dengan Ultra Sound dan Myofascial Release

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Permasalahan muskuloskeletal selalu menarik perhatian bagi seorang fisioterapis. Timbulnya spasme pada otot yang mengalami kelelahan, nyeri otot pada saat aktivitas maupun setelahnya , kontraktur dan rasa kesemutan merupakan beberapa problem akibat gangguan musculoskeletal yang sangat mengganggu kenyamanan dan produktivitas seseorang.
Permasalahan muskuloskeletal yang sangat mengganggu seorang individu adalah timbulnya nyeri dengan segala deviasinya. Kontraktur mungkin mengganggu produktivitas seseorang, namun dia baru akan merasa dirinya sakit dan tidak nyaman dalam hidupnya, kemudian mencari pertolongan bila rasa nyeri sudah terasa.
Myofascial Trigger Point Syndrom (MTPS) adalah salah satu kondisi yang dapat memunculkan nyeri selain penyebab yang berasal dari saraf, tulang, dan sendi. MTPS sendiri adalah sebuah sindrom yang muncul akibat teraktivasinya sebuah atau beberapa trigger point dalam serabut otot. Trigger Point merupakan faktor besar penyebab timbulnya musculoskeletal disorder yang sayangnya sering salah didiagnosa. Kesalahan interpretasi ini mengakibatkan kasus-kasus Trigger Point tidak tertangani secara tepat (David Simons, 2003).
1
Nyeri myofascial adalah titik-titik yang hiper-iritasi, memiliki ciri khas tersendiri, terasa bunyi bila ditekan, yang terletak pada taut band otot skeletal. Nyeri myofascial dicirikan dengan adanya trigger point atau titik cetus. Titik cetus ini sangat nyeri bila ditekan dan dapat menghasilkan nyeri rujukan (reffered pain), disfungsi motorik dan fenomena autonom (keringat yang kurang di daerah yang nyeri). Trigger point yang menghasilkan reffered pain kadang tidak berhubungan dengan penjalaran saraf.
Penyebab dari nyeri myofascial dibagi menjadi dua yaitu mekanik dan ergonomic. Penyebab mekanik yang dimaksudkan disini adalah terjadinya trauma akut atau repetitive mikrotrauma. Trauma ini biasanya disebabkan karena postur tubuh yang jelek (scoliosis, lordosis, kyposcoliosis), gangguan tidur dan problem pada sendi. Sedangkan penyebab secara ergonomic misalnya posisi tidur yang jelek, posisi kerja yang buruk, sering memakai sepatudengan hak tinggi, dan sebagainya. Gejala dari nyeri myofascial biasanya muncul di sekujur tubuh dari kepala sampai kaki. Di daerah kepala, nyeri ini sering mengakibatkan terjadinya nyeri kepala, migraine, leher tegang, vertigo, nyeri bahu sampai tangan (yang sering disalahartikan dengan asam urat). Di daerah punggung, nyeri ini sering mengakibatkan terjadinya nyeri pinggang (Low Back Pain/LBP), nyeri menjalar sampai kaki, dan sebagainya.
Menurut penelitian F.Wolf (1995) yang dimuat dalam presentasi David Simons (2003) , 98 % kasus Nyeri berasal dari musculoskeletal, dan nyeri muskuloskeletal yang berasal dari otot lebih sering mengacu pada Fibromyalgia Syndrome dan MTPS dalam serabut otot.
Dalam permasalahan trigger point ini maka penghargaan terbesar patut diberikan kepada DR Janet Travell, yang telah banyak menulis buku, jurnal maupun penelitian yang terkait dengan trigger point (Doommerholt,dkk, 2006). Di dunia kedokteran sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Simons dalam makalahnya di atas, otot sebagai sebuah organ diperlakukan seperti anak yatim, beliau kemudian menyindir ketiadaan spesialisasi kedokteran yang mengambil otot sebagai bidang garapannya dalam dunia kedokteran.
Akibatnya banyak keluhan- keluhan nyeri yang berasal dari otot namun salah diasosiasikan keluhan-keluhan nyeri yang berasal dari saraf, sendi, atau tulang, karena kurangnya interes di bidang ini. Seperti misalnya keluhan Ischialgia banyak yang didiagnosa berasal dari spondylosis atau Hernia Nukleus Pulposus, keluhan nyeri leher apalagi yang menjalar ke tangan dan lengan didiagnosa sebagai Cervical Root Syndrom. Padahal banyak jenis nyeri seperti diatas dan juga nyeri abdominal, epigastric atau seperti nyeri anginal yang bersangkutan dengan MTPS (Thamrinsyam Hisyam, 2000).
Di balik keluhan-keluhan nyeri yang di derita pasien banyak yang berhubungan dengan Trigger Points (Jan Dommerholt, 2006). Dari 13 orang dengan 8 otot yang diteliti hanya satu orang yang tidak mempunyai Trigger point, dua belas orang mempunyai trigger poin di 8 ototnya dengan penyebaran yang berbeda-beda (David Simons, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa banyak di antara kita yang sesungguhnya mempunyai trigger points, hanya saja karena berupa laten/pasif Trigger points maka tidak begitu terasakan.
Salah satu pembentuk dan pembangkit aktualitas trigger points yang sudah terkenal secara umum adalah kontraksi otot yang berlangsung terus-menerus yang salah satunya disebabkan postur kerja yang salah (Huguenin,2003). Sehingga faktor pola kerja yang ergonomis akan sangat mempengaruhi timbulnya MTPS atau aktifnya laten trigger points (Edwards J, 2006). Adanya kegiatan tubuh yang termasuk kedalam Sustained low level contraction , seperti aktivitas mengetik selama 30 menit terus-menerus umumnya akan menimbulkan MTPS (Treasters,et al, 2006) . Andersen, et al (1995) menyatakan bahwa MTPS merupakan kondisi yang umum ditemukan pada pekerja kantoran, musisi, dokter gigi, dan jenis profesi lainnya yang aktivitas pekerjaannya banyak menggunakan low level muscle exertion.
Dari beberapa keluhan yang datang mengenai nyeri bahu baik dari teman-teman seprofesi maupun dari pasien yang datang. Keluhan MTPS banyak tertuju pada trapezius upper dimana berdasarkan kondisi ini sangat menganggu tingkat produktivitas mereka, dan bahkan di tingkat nyeri tertentu menyebabkan kecemasan yang tinggi dan mengganggu ketenangan hidupnya karena mengira keluhannya berkaitan dengan penyakit metabolik yang dianggap mengganggu kelangsungan hidup seperti stroke dan penyakit jantung.
Kasus yang ditemukan di tempat penulis bekerja kebanyakan diderita oleh orang-orang yang sehari-hari harus duduk didalam kantor atau tempat mereka rata-rata selama 6 jam dalam posisi  yang statis. Mereka sehari-hari bekerja dalam posisi yang menetap seperti mengetik, duduk di tempat bekerja yang sangat membutuhkan kerja extra dari otot trapezius upper. Keluhan yang mereka kemukakan berkisar rasa tak nyaman di leher dan bahu, migraine, rasa nyeri tumpul atau dingin di daerah bahu sampai ke\ lengan dan dada , migraine, vertigo, serta kadang-kadang muncul rasa semutan dan perasaan seperti terbakar pada punggung atas dan lengan yang kemudian diikuti ketidakmampuan lengan untuk menahan posisinya ketika berektivitas.
            Ketika ada aktivitas pekerjaan yang menggunakan otot trapezius upper maka kedua faktor diatas ini akan menimbulkan hipoksia dalam sel otot dan akhirnya mengakibatkan penurunan PH lokal dan keluarnya substansi-substansi yang dapat menstimulasi aktivitas nociceptor otot dan dorsal horn medulla spinalis. Aktivitas nociceptor ini akan menimbulkan spasme, allodynia, hiperesthesia dan mekanik hyperalgesia baik lokal maupun rujukan yang merupakan tanda khas dari myofascial trigger point syndroma (Dommerholt, 2006). Tanda khas MTPS yang lain adalah penurunan kekuatan otot yang berlangsung secara tiba-tiba. Penurunan kekuatan ini secara klinis sangat berkaitan dengan Trigger Point dalam otot tersebut. Karena ketika Trigger Point berhasil dinonaktifkan maka kekuatan otot secara instan akan kembali pulih. Penurunan kekuatan yang khas ini diduga akibat inhibisi komponen motorik yang reversible dan berasal level medulla spinalis (Gerwin RD, 2004).
            Untuk itu penulis ingin mengetahui lebih dalam tentang kondisi myofascial trigger point syndroma ini dengan penelitian tentang perbedaan pemberian Intervensi Ultra Sound dengan  pemberian Infra Red ditambah myofacial release terhadap kasus myofacial tringer point synroma trapezius upper di Rumah Sakit Umum Kota Solok. Dimana ultra sound merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang dapat memberikan efek mokro massage terhadap jaringan yang mengalami cedera atau keterbatasan baik pada otot maupun pada sendi. Sedangkan Myofacial release adalah teknik pengobatan yang dilakukan oleh tangan yang aman dan efektif terhadap pembatasan jaringan ikat myofacial untuk menghilangkan rasa sakit dan mengembalikan fungsi gerak yang dilakukan dengan cara memberikan tekanan lembut yang berkelanjutan terhadap suatu jaringan (Barnes, 1990).
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah ada pengaruh pemberian intervensi ultra sound terhadap pengurangan nyeri pada penderita myofacial tringger point sydroma?
2.      Apakah ada pengaruh pemberian ultra sound dan myofacial release terhadap pengurangan nyeri  pada penderita myofascial tringger point syndrome?
3.      Apakah ada perbedaan pemberian intervensi Ultra Sound dengan pemberian Intervensi ultra sound dan myofascial release terhadap penderita myofascial tringger point syndrome?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui pengaruh pemberian intervensi Ultra Sound terhadap pengurangan nyeri pada penderita myofacial tringger point sydroma?
2.      Untuk mengetahui pengaruh pemberian ultra sound dan  myofacial release terhadap pengurangan nyeri  pada penderita myofascial tringger point syndrome?
3.      Untuk mengetahui perbedaan pemberian intervensi Ultra Sound dengan pemberian Intervensi ultra sound dan myofascial release terhadap penderita myofascial tringger point syndrome.
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang hendak diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain:
1.      Bagi Institusi Pendidikan Fisioterapi
Sebagai tambahan khasanah keilmuan tentang Myofacial Tringger Point Syndroma dan Metode penanganannya.
2.      Bagi Fisioterapi
Sebagai masukan tentang kondisi Myofacial Tringger Point Syndroma dan variasi penanganannya yang lebih efektif dan efisien.
  




Jumat, 12 Juli 2013

PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FASILITATION (PNF)

Dikembangkan pertama kali oleh dr. Herman Kabat(neurology/psikolog) dari Amerika Serikat pada tahun 1950-an yangkemudian dikembangkan oleh Margaret Knott (fisioterapis) danDorothy Voss (okupasi terapis) hingga tahun 1970-an. Pada awalnyaPNF lebih ditekankan pada berbagai kasus muskuloskeletal. Tetapikemudian dikembangkan juga untuk kasus-kasus neurology termasukhemiplegia (stroke)Prinsip umumnya adalah dengan pemberianstimulasi tertentu untuk membangkitkan kembali mekanisme yanglatent dan cadangan-cadangannya maka akan dicapai suatu gerakfungsional yang normal dan terkoordinasi.Prinsip-prinsip yangmendasari adalah:Proses tumbuh kembangPrinsip-prinsip neurofisiologisIlmu gerak (biomekanika).
Tujuan PNF
1.      Menimbulkan, menaikkan, memperbaiki tonus postural
2.      Memperbaiki koordinasi gerak
3.      Mengajarkan pola gerak yang benar
Beberapa dasar teori neurofisiologis yang masih sering dijadikan acuan, misalnya:
Ø Perbaikan dimulai dari proksimal ke distal (Souza et al, 1980)
Ø Stabilitas dan kontrol dari shoulder diperlukan lebih dahulusebelum gerakan tangan
Ø Spastisitas harus diinhibisi sebelum gerak aktif ekstremitas(Bobath, 1990)
Ø Perbaikan ekstremitas atas menganut pola tertentu: proksimalke distal, perbaikan gerak fleksi diikuti gerak ekstensi, gerak sinergisfleksor, ekstensor diikuti gerak fungsional.
Metode gerakan kompleks juga dikenal dengan istilah PNF, “Proprioceptive Neuromuscular Facilitation”. PNF berarti bahwa peningkatan dan fasilitasi neuromuscular dengan sendirinya, sehingga memerlukan blocking yang berlawanan. Dalam proses ini, reaksi mekanisme neuromuscular dimanfaatkan, difasilitasi, dan dipercepat melalui stimulasi reseptor-reseptor. Penggunaan gerakan kompleks berdasarkan pada prinsip-prinsip stimulasi organ neuromuscular dengan bantuan tambahan dari seluruh gerakan. Reseptor-reseptor dalam otot dan sendi merupakan elemen penting dalam stimulasi sistem motorik.

PRINSIP-PRINSIP DASAR TEKNIK PNF
Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar yang dapat meningkatkan reaksi yang diinginkan dan digunakan untuk mencapai fungsi yang optimal.
1.      Teknik Menggenggam
Secara tepat dapat dihitung dan diaplikasikan teknik menggenggam dari terapis untuk menentukan strength (kekuatan) gerakan kompleks yang dihasilkan. Stimulasi verbal dan visual Secara sederhana, instruksi yang jelas dapat mengurangi kerja terapis. Pasien harus melihat dan berpartisipasi melakukan gerakan yang dicontohkan terapis.
2.      Stimulai Verbal dan Visual
Secara sederhana, intruksi yang jelas dapat mengurangi kerja therapist. Pasien harus melihat dan harus berpartisipasi melakukan gerakan yang dicontohkan therapist.
3.      Kompresi dan Traksi
Kompresi menyebabkan permukaan sendi saling merapat, traksi dapat menggerakkan permukaan sendi saling menjauhi. Reseptor-reseptor akan terangsang. Traksi dapat memfasilitasi gerakan pada sistem otot ; kompresi dapat meningkatkan stabilitas.
4.      Tahanan maksimal
Hukum “all or nothing” dalam kontraksi otot terlibat dalam teknik ini. Tahanan isometrik dan/atau isotonik dapat digunakan dalam teknik ini. Tahanan yang maksimal ditentukan oleh strength (kekuatan) otot dari setiap pasien.
5.      Rangkaian Aksi Otot yang tepat
Ketika otot berkontraksi dalam suatu rangkaian yang tepat, maka group otot yang tegang akan mengatasi tuntutan yang terjadi dengan optimal efektifitas. Waktu yang tepat dapat berperan penting baik pada gerakan kompleks maupun pada olahraga.
Ada 3 komponen gerakan yang mengambil bagian dari setiap pola gerak spiral dan diagonal :
a.       Fleksi atau ekstensi
b.      Adduksi atau abduksi
c.       Eksternal atau internal rotasi
Eksternal rotasi digunakan dalam kombinasi dengan supinasi, dan internal rotasi digunakan kombinasi dengan pronasi. Variasi teknik gerakan kompleks dapat memperbaiki implementasi dan efektifitas sistem muskuloskeletal. Urutan gerakan pada olahraga spesifik dapat dikombinasikan dengan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak memukul pada handball atau menembak bola pada sepakbola.
6.      Tahanan langsung
Hal ini melibatkan tahanan maximal untuk seluruh durasi gerakan, tahanan ini bergantung pada gerakan alamiah yang beragam.
7.      Kontraksi yang berulang
Kontraksi static dan dinamik terlibat secara bergantian. Strength (kekuatan) otot diperbaiki, khususnya pada area genggaman tahanan, ROM, dan endurance (daya tahan).

Teknik yang digunakan dalam metode PNF
1.      Rhythmical Initation
Teknik yang dipakai untuk agonis yang mengunakan gerakan-gerakan pasif, aktif, dan dengan tahanan.
Caranya :
Terapis melakukan gerakan pasif, kemudian  pasien melakukangerakan aktif seperti gerakan pasif yang dilakukan terapis, gerakan selanjutnya diberikan tahanan, baik agonis maupun antagonis patron dapat dilakukan dalam waktu yang tidak sama.
            Indikasi :
Problem permulaan  gerak yang sakit karena rigiditas, spasme yang berat atau ataxia, ritme gerak yang lambat dan keterbatasan mobilisasi.
2.      Repeated Contraction
Suatu teknik dimana gerakan isotonic untuk otot-otot agonis, yang setelah sebagian gerakan dilakukan restretch kontraksi.
Caranya :
Pasien bergerak pada arah diagonal, pada waktu gerakan dimana kekuatan mulai turun, terapis memberikan restreth, pasien memberikan reaksi terhadap restretch dengan mempertinggi kontraksi, terapis memberikan tahanan pada reaksi kontraksi yang meninggi. Kontraksi otot tidak pernah berhenti, dalam satu gerakan diagonal restreth diberikan maximal empat kali.
3.      Stretch Reflex
Untuk gerakan yang mempunyai efek fasilitasi terhadap otot-otot yang terulur.
Caranya :
Panjangkan posisi badan (ini hanya dapat dicapai dalam bentuk patron), tarik pelan-pelan kemudian tarik dengan cepat (tiga arah gerak) dan bangunkan stretch reflex, kemudian langsung berikan tahanan setelah terjadi stretch reflex, gerakan selanjutnya diteruskan dengan tahan yang optimal, berdasarkan aba-aba pada waktu yang tepat.
4.      Combination of Isotonics
Kombinasi kontraksi dari gerak isotonic antara konsentris dan eksentris dari agonis patron (tanpa kontraksi berhenti) dengan pelan-pelan.
5.      Timing for Emphasis
Bentuk gerakan dimana bagian yang lemah dari gerakan  mendapat ekstra stimulasi bagian yang kuat.
Caranya :
Pada suatu patron gerak, bagian yang kuat ditahan di bagian yang lemah dibiarkan bergerak.
6.      Hold Relax
Suatu teknik dimana kontraksi isometric memepengaruhi otot antagonis yang mengalami pemendekan, yang diikuti dengan hilang atau  kurangnya ketegangan dari otot-otot tersebut.
Caranya :
a.       Gerakan dalam patron pasif atau aktif dari group agonis sampai pada batas gerakn atau sampai timbul rasa sakit.
b.      Teraois memberikan penambahan tahanan pelan-pelan pada antaggonis patron, pasien harus menahan tanpa membuat gerakan. Aba-aba =’tahan disini !”.
c.       Relaks sejenak pada patron antagonis, tunggu sampai tombul reaksi pada group agonis, gerak pasif atau aktif pada agonis patron, ulangi prosedur diatas, penambahan patron agonis, berarti menambah LGS.
7.      Cantract Relax
Suatu teknik dimana kontraksi isotonic secara optimal pada otot-otot antagonis yang mengalami pemendekan.
Caranya :
a.       Gerakan pasif atau aktif pada patron gerak agonis sampai batas gerak.
b.      Pasien diminta mengkontraksikan secara isotonic dari otot-otot antagonis yang mengalami pemendekan. Aba-aba =’tarik ! atau “dorong ! ‘
c.       Tambah lingkup gerak sendi pada tiga arah gerakan, tetap diam dekat posisi batas gerakan, tetap diam dekat posisi batas gerakan, pasien diminta untuk relaks pada antagonis patron sampai betul-betul timbul relaksasi tersebut, gerak patron agonis secara pasif atau aktif, ulangi prosedur diatas, dengan perbesar gerak patron agonis dengan menambah LGS.
8.      Slow Reversal
Teknik dimana kontraksi isotonic dilakukan bergantian antara agonis dan antagonis tanpa terjadi pengendoran otot.
Caranya :
a.       Gerakan dimulai dari yang mempunyai gerak patron yang kuat.
b.      Gerakan berganti kearah patron gerak yang lemah tanpa pengendoran otot.
c.       Sewaktu berganti kearah patron gerakan yang tahanan kuat atau luas gerak sendi bertambah.
d.      Teknik ini berhenti pada patron gerak yang lebih lemah.
e.       Aba-aba disini sangat penting untuk meperjelas kearah mana pasien harus bergerak. Aba-aba “ dan . …..tarik ! “atau “dan dorong !”.
f.       Teknik ini dapat dilakukan dengan cepat.

Tidak semua teknik PNF dapat diterapkan pada penderita stroke. Teknik-teknik yang dapat digunakan adalah rhythmical initation, timing for emphasis, contraks relax dan slow reversal.